[ K-O-M-A ]


Sebenarnya udah lumayan lama tertarik dengan buku ini, terutama dengan tanda “Koma” besar yang menjadi covernya. Tidak ada sinopsis di bagian belakang buku yang biasanya bisa memberikan sedikit gambaran tentang isi cerita. Itu juga yang bikin daku maju mundur…. beli gak ya? hehehehe… dan IYA! it’s a good read!

Berkisah mengenai KODRAT, tokoh utama yang digambarkan dengan begitu sederhana dan jenaka. Tinggal bersama Kenangan, sang ibu, yang berprofesi sebagai perangkai karangan bunga (terutama karangan bunga duka cita), sejak kecil ia telah memiliki bakat yang secara tidak langsung menurun dari ibunya. Kepandaiannya dalam merangkai bunga sejak usia kanak-kanak membuat setiap rangkaian bunga yang dibuatnya begitu hidup dan membuat orang lain terpesona seperti keindahan cinta yang sedang mereka rasakan. Kodrat tumbuh sebagai pemuda yang begitu mencintai bunga karena baginya, bunga mampu menghalau setiap kesedihan yang ia alami.

Kepiawaian Kenangan dalam merangkai bunga duka cita merupakan cerminan atas apa yang pernah dialaminya.Hasil rangkaiannya selalu membuat orang lain benar-benar merasa berduka & banjir air mata. Walaupun Kodrat dapat melihat derita yang pernah ditanggung oleh ibunya, tapi ia tidak pernah mempertanyakan mengapa sang ibu begitu mencintai kesedihannya.

Tokoh-tokoh lain dalam cerita ini.. Jauhhari.. Ayah Kodrat yang tidak pernah ia kenal dengan baik, Bono, Muara, Pamungkas yang pada akhirnya memiliki keterkaitan dengan apa yang terjadi pada Kodrat, benar-benar dilukiskan dengan informasi seadanya. Sepertinya kita juga diajak untuk bisa menebak-nebak ataupun berimajinasi untuk saling mengkaitkan hubungan satu dengan yang lainnya. Akhir dari apa yang terjadi dengan Kodrat setelah musibah yang menimpa dirinya juga tidak ditampilkan dengan jelas, mengambang… walaupun ada percakapan alam bawah sadar yang membuatnya ‘mati’ untuk sementara waktu memberikan gambaran tentang apa yang dialaminya selama ia ‘tertidur.’ Jadi memang belum TITIK… tapi KOMA. Ini pulakah yang disebut ‘absurb?’

Sebenarnya secara keseluruhan novel ini mengasyikkan, membawa kita untuk lebih membuka imajinasi. Walaupun kadang terkesan “berat”, namun karena bahasa yang digunakan mudah dimengerti dan cenderung menggunakan bahasa sehari-hari, membuat novel ini terasa lebih ‘ringan’. Apalagi dengan tokoh Kodrat yang digambarkan dengan ketidak-tahuannya… polos??, tidak juga… karena ia pun kadang menggeluti dunia malam.

Bacalah… mungkin kalian akan menyukai absurditas ini… 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s